Saturday, August 29, 2009

- RINTIHAN PASCA-MERDEKA -

- RINTIHAN PASCA-MERDEKA -

Meskipun menjelang sore selepas 52 tahun merdeka
Aku lihat kau liat enggan bangkit
Kau semakin lena dibobok ratapan alam
Tenggelam lemas yang melenangkan
Pun kau masih borak tentang kemerdekaan
Dan semestinya kemerdekaan itu seperti yang kau beli ditoko-toko buku

Kau para pemuda pemudi kami;
Kau yang meraba
Terisung dan semakin terkebelakang
Memalu canang retak
Sambil kau tersadung digigi lopak-lopak kefahaman
Kau menyeranah tidak lain diri sendiri
Dan longgokan ilmu yang dulu kau ludahi
Bergulung persis ombak siap menelan nakhoda-nakhoda riak
Menghantui setiap detak persiaran masa
Kau kini aku lihat kian lemas

Kau para guru kami;
Berlenanglah mendidik kami
Layaknya seorang pujangga bebas
Hingga ampuh akal kami
Biar kami menghirup khamar pencerahan
Dibawah lembayung kasih gedung ilmu
Menerap kefahaman perjuangan hidup
Bergurindam seni didalam bahasa
Tanpa kau letakkan sebarang batasan cukup
Yang memutuskan pertalian ilmu antara kita

Kau para bapa kami;
Seorang jeneral didalam rumah
Seorang lagenda didalam perjuangan
Rentetkan terusan kepada kami
Nostalgia-nostalgia kehidupan
Tiuplah runut-runut resonen semangat
Takala kami menguap kebosanan
Khabarkan kepada kami tentang insurgensi agar kami terus berwaspada
Bidang badan tempat puluhan peluru bersarang
Seakan galeri bagi kami
Mempamirkan setiap kisah getir digaris setiap peristiwa lelah
Biar kami sentiasa dipetir mahalnya erti kemerdekaan

Kau para ibu kami;
Nyanyikanlah dengan nyaring ketika kau membuai kami
Lagu-lagu rakyat penuh rempah kehidupan
Menyediakan diantaranya jalan-jalan perdamaian
Agar didalam tidur kami pun dilimpahi ilmu
Menjadi cahaya sakti menemani tidur malam kami
Menghindarkan hantu-hantu kesesatan
Dan takala kami bangkit melindungi kau
Jutaan semangat zaman sentiasa dipundak kami
Bersama sonata-sonata dan anthem-anthem rakyat
Yang pernah kau para ibu kami ajarkan kepada kami

Kau para pemimpin kami;
Tangan-tangan kotor kau yang mengunjurkan korupsi
Menenyeh tinta berpayungkan panji-panji ;
-Kedaulatan
-Kemerdekaan
-Perjuangan
Kau gadaikan kami setelah kau gadaikan maruah kau sendiri
Kau sembunyikan kebenaran
Kau menyesatkan kami dibawah kecelaruan fikiran
Hingga hilang upaya dari anak-anak kami untuk bingkas melawan
Terlumpuhlah semangat dan perjuangan nasab kami
Disinilah segalanya terhenti
Tergantung diantara zaman
Terjerut diantara kalam rintihan pasca-merdeka

Oh dengar!
Dengar lah!
Di pelebas telinga yang kau nyatakan sensitif
Oh dengar!
Dengar lah!
[Dengarkan lah] rintihan halus pasca-merdeka...


-catatan John si ‘orang gila’-
-2311 Julai 29, 2009, wilayah separa sedar-

Wednesday, August 19, 2009

-SAJAK PERAWAN GERING-

-SAJAK PERAWAN GERING-

Tampuk nurani menelan tenteram
Merindui tiap titipan akhir kecundang
Aku telan
Begitu juga dia kiranya

Apakah telah terhindar
Berjuta macam kengiluan disegenap liang roma
Di seper tiga setiap malam dia teresak
Adakah pernah dia kira aku juga begitu

Lalu aku terus menelaah
Kitab-kitab usang perjalanan waktu
Bermusuhan dengan hati sendiri
Mengingkari setiap fakta yang selamanya rahsia

Inilah saat dimana aku pasti
Ketika aku menulis – Sajak Perawan Gering
Matahari hangus terbakar kerana air matanya
Gunung bergoncang dipalu sedunya
Bumi merekah mendengar alasannya
Kering air lautan dek rintihannya
Langit hitam tercemar wajahnya
Itu lah dia wajah perawan gering
Tidak mampu dibenci
Dan bukan hak aku melaksanakan hukum
Yang nyata aku telah tiada
Dikunyah menjadi ubat perawan gering

Apakah kini tujuan harus dilipat-lipat
Dikirimkan diperjauhan pelusuk
Kini yang memakai wangian kebebasan
Kini yang melihatkan setiap cahaya jalanan
Tentu saja terdapat bentuk-bentuk halangan
Tetapi kini itu lebih menjanjikan keberlangsungan
Dan kini itu yang terus tersenyum mengerti

Disatu ketika dulu
Betapa luluh mendengar derita ditanggungnya
Disetiap sesi-sesi malam bagai mimpi ngeri didalam sedar
Dan dadah yang tiada banyak membantu
Adakah semua itu benar?
Sekali pun hanya jajaan, aku hamparkan kepercayaan
Disetiap belahan dan jahitan
Wujudkah parut-parut yang mampu bercerita?
Atau mampukah cerita itu untuk dipercayai?

Dan seiring seretan langkah
Persoalan membentuk lingkaran muram
Berkemampuan menelan segala sifatnya
Tiadalah ertinya disetiap yang telah dia nyatakan
Bila nafi terus berlingkar sarang diruang kepercayaan
Aku yang bersifat lupus
Hanya bersandar rehat menikmati pandangan
Semoga kau terhapus gering wahai perawan…

-catatan John si ‘orang gila’-
-1424 Ogos 20, 2009, wilayah separa sedar-



gambar ihsan dari x-men

Saturday, August 8, 2009

- PROPESI KE VI -

-PROPESI KE VI-

Aku mengerti teramat mengerti
Di setiap genyitan
Maupun kira halus bahu dibelai
Kau tetap ingin mendominasi
Tika salam
Dibungkaman telapak pun mau kau jajah
Tiada sesaat terlepas
Kau hirup
Kau jilat nyawa-nyawa penuh nikmat
Rakus mendengus ditekak diktator moden

Entah - isikan pengertian
Apa nikmatnya disalib secara halus
Diatas kau julang pemimpin zalim
Dibawah kau saksi penindasan
Di kiri kau lakukan ketidakadilan
Dikanan kau tertawakan kemiskinan
Pun masih kau iakan lidah yang dipahat

Dan rumput yang kering ditijak kau
Menjadi mukjizat betapa keji pembohongan yang kau bawa
Tunduk lah menyebah
Launglah ‘satu Malaysia’
Sujud lah
Nabi melayu sudah tiba
Derhaka lah
Mereka yang menolak kebanjingan kau

Mari
Kemari dan jadi lah pendukung yang setia
Setiap perkara pasti ada cara penghalalannya
Pasti dikurniai karamah
Dan buta lah mata rakyat jelata
Anubis ISA dan FRU Ramsis
Pengganti Rakib dan Atit

Dan kaca mata itu sungguh bergaya
Bergaya dan berjaya
Menutup kejahatan dibalik ekor mata musang berbatik
Riak muka tak bersalah
Menimbus kemelut yang terus mendesah
Juga
Bauan kuping meloya

Mari nobatkan
Mari tabalkan
Dari utara hingga selatan tanah air
Berserta setiap binaan blok-blok Malaysia merdeka di atasnya
Bersaksilah
Inilah yang ditunggu
Inilah yang dinanti
Propesi ke enam, Nabi Melayu – sudah tiba

Sujud
Sembah
Dan berlapang lah untuk disalib

-catatan John si ‘orang gila’-
-0241 Ogos 08, 2009, wilayah separa sedar-
-0320 Ogos 09, 2009, Embrace Hall, Johor Bahru-

Saturday, August 1, 2009

-SESAT DI KOTA REVOLUSI-





- SESAT DI KOTA REVOLUSI -

Selamat pagi kota jumud Gemas
Kini di kota revolusi Kuala Lumpur
Pagi penat pagi lewat pagi semangat
Hari ni tiupan massa bergema gelora

Assalamualaikum kah? Allahuakbar kah? Reformasi kah? Bungkam kerajaan kah? Atau bertegur sapa “Eh kau! Hey KITA! – Sama saja!

Perit pekik
Berlari berhenti dan takbir
Bersilih, selalunya mata pedih
Rembesan mukus tak terkawal – walau gaya cukup teroris
Ayoh! Kita tegakkan panji keadilan!

Surai terburai
Bom asap sungguh menyengat
Tidak, tidak bukan; patik mohon derhaka
Itu bau wang rakyat ditembak
Untuk rakyat
Alahai…

Hapuskan ISA - fatik, kulit perih
Namun tak serentong hati
Rakyat didahulukan, apa dia?
Revolusi diteruskan, agaknya lah…

Malam, aku kembali menjadi rakyat yang ‘baik’
Baju sudah tukar
Bau pun wangi-sensasi terbakar masih di kulit
Enak juga berlakon borjuis
Partisipasi dalam lumba kota ronda-ronda hobo
Duduk, selamat datang
Cukai servis, cukai kerajaan [lagi?]
Ramainya di dalam benteng kapitalis-pasarmega
Muka-muka yang semestinya tiada dalam barisan
Persetan, kau sendiri yang hendak tidur

Didalam keenakan mee kari aku terkenang
Aneh mengapa
Di mana lekanya manusia idealis kala insurgensi abad ke-21?
Adakah cuma simulakrum pondok-pondok?

Ah ~ enaknya air
Dvd lanun dan hijaunya damai
halusinasi radikal
Aku ucapkan
Selamat malam kota revolusi Kuala Lumpur



-catatan kolaborasi Si Tolol dan John si ‘orang gila’-
-0339 Ogos 2, 2009, wilayah separa sedar-
-kota revolusi Kuala Lumpur-

Thursday, July 30, 2009

-NASIB ANAK KAUM PADI-



- NASIB ANAK KAUM PADI -

Kita anak kaum padi
Kononnya malu hidup terjajah diri
Dan takala jirim kemerdekaan semakin hilang dari timbangan (~ dacing?)
Rupanya digadai petualang bangsa
Dan takala itu juga kau aku lihat
Semakin erat memeluk tubuh
Semakin kuat gelengan kepala tak peduli

Kita anak kaum padi
Yang kini tumbuh mencacat di sawah-sawah kontang ;
-Kontang ilmu
-Kontang semangat
-Kontang pengertian
-Kontang kebenaran
-Kontang perjuangan
-Songsang kongkang

Kita anak kaum padi
Kononnya makin tunduk makin berisi
Tapi sumur beracun paksian lewa senang
Kita hirup berwadahkan akar – kita anak kaum padi
Kononnya kaum suci menyumbang ruji
Tetapi sebenarnya hanya dari benih terbuang gred ‘D’

Kita anak kaum padi
Kini tumbuh hidup terus menyendiri
Engkau, engkau dan aku, aku
Berdoa berharap terbela hidup dijaga sang pagar dajal
Tanpa belulang berusaha sendiri
Diri mudah bergoyang dek angin lalu
Takut dan tak mampu mengawal nafsu
Enggan bebas dari kebergantungan liabiliti
Berkejar berlumba mimpi
Siapa paling kaya
Siapa paling berkuasa
Dan sebenarnya kita anak kaum padi
Yang seumur hidup menghirup kahak subsidi

Kita anak kaum padi
Kononnya bangga mencengkam tanah air
Tidur terlena dalam bobokan lagu-lagu rakyat
Kononnya kini sudah masa
Hidup sudah makmur, kita sudah merdeka
Leka dan lalai – kita rela dijual dengan murah

Kita anak kaum padi
Tak mampu dijaga ditatang lagi
Kini jamung jajahan bentuk baru mengancam ditanah sawah – kita anak kaum padi
Dan satu persatu aku lihat anak kaum padi menunggu untuk dipanggang
Hangus tiada abu - diperkosa api
Sehingga yang tersisa hanyalah lagenda-lagenda sulit
Kisah kita anak kaum padi

-catatan John si ‘orang gila’-
-0319 Julai 21, 2009, wilayah separa sedar-



-HARI INI BERNAS, BESOK TABUNG HAJI PULA?-
-HALANG DOMINASI ENTITI ASING KEATAS MAKANAN RUJI KITA!!!CATAT ULASAN TANDA BANTAHAN ANDA-

Wednesday, July 29, 2009

- PERISTIWA 'ALIF' -

- PERISTIWA ‘ALIF’ -

Malam ini milik aku
Di wangian kejayaan aku menghidu datangnya kuasa
Bersama kuasa, terpimpin kemewahan
Aku terhibur dengan perempuan-perempuan lagaknya aku dewa pencinta
Kepura-puraan yang diharap aku beli dengan wang ringgit
Tidak mengapa, aku masih terhibur

Aku pasti ini realiti
Jika mimpi pun, aku berdoa [aku] tak kan terjaga
Dan aliran likuer-likuer itu seakan aprodisiak membaja libido
Aku ingin terus minum hingga orgasma!
Aku ingin pitam diatas tubuh-tubuh munggil giur perempuan

Hanyutan aku terjeda dek sosok tubuh yang bergemilau
Aku amati keadaannya sugul takala aku bebas gembira
Aku lantas berang, lalu mengatur langkah memberontak
Belum pun sempat aku bertindak
Dia menghulurkan satu balutan

Aku merobek pembalutnya
Tika isi dibalik balutan kian mengimbau memori
Seakan disentap nyawa dengan rakus
Senaskah Kalamullah berada ditangan
Seberat semesta menginjak pundak

Retaliasi mendongak lantas air mata bergenang
Tak terkira persoalan ingin dipacul
Dengan lirikan senyaman salju dan santunan beredar
Berhati dia memberi jawapan
‘Aku hanyalah utusan.”…

-catatan John si ‘orang gila’-
-1347, Jun 22, 2009, wilayah separa sedar-